Membangun Dari Pinggiran, NTT Akan Miliki Empat Bendungan Baru

01/03/2017

Tidak berkategori

Jakarta – Dalam rangka mewujudkan Nawa Cita yakni membangun dari pinggiran serta pemerataan pembangunan, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat saat ini tengah menyelesaikan tiga bendungan baru dan tahun ini akan ada satu bendungan lagi yang akan dibangun di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Disamping bendungan, juga telah dibangun infrastruktur strategis lainnya, yakni tiga Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Indonesia-Timor Leste yang berada di Wini, Motaain dan Motamasin termasuk pengembangan permukiman disekitar perbatasan.

Untuk mendukung konektivitas, telah dibangun jalan perbatasan yang dikenal dengan istilah Sabuk Merah Sektor Timur dengan total panjang 176,19 km dimana tahun 2016 sudah berhasil tembus 48,19 Km, tahun ini akan ditambah 104 Km dan sisanya akan selesai tahun 2018.

Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dikenal sebagai provinsi yang sering mengalami kesulitan air untuk memenuhi kebutuhan permukiman perkotaan, peternakan dan pertanian. Ketersediaan air menjadi salah satu faktor penting bagi pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di NTT.

Ketiga bendungan tersebut yakni Bendungan Raknamo di Kabupaten Kupang, Bendungan Rotiklot di Kabupaten Belu dan Bendungan Napun Gete di Kabupaten Sikka.  Sejak dilakukan groundbreaking oleh Presiden Joko Widodo pada Desember 2014 lalu, progres pembangunan Bendungan Raknamo di Kabupaten Kupang, dengan biaya sebesar Rp 710 miliar mencapai 87,11%.  PT Waskita Karya (Persero) Tbk selaku kontraktor diberikan target penyelesaian pada Juli 2017.

Keberadaan Bendungan Raknamo diharapkan untuk menyediakan air baku di Kabupaten Kupang dengan debit sebesar 100 liter per detik, irigasi 1.250 hektar lahan pertanian di Kecamatan Naibonat, Desa Raknamo dan Desa Manusak, pengendalian banjir daerah hilir Kota Kupang, pengembangan pariwisata, serta pembangkit listrik tenaga mikro dengan daya 0,22 MW.

Sementara itu, untuk pembangunan Bendungan Rotiklot  yang pada saat dilakukan groundbreaking  oleh Presiden Joko Widodo pada 28 Desember 2015 lalu, hingga kini progresnya telah mencapai 44 persen, lebih cepat dari target sebesar 33 persen.

Bertindak selaku kontraktor PT Nindya Karya-PT. Universal Suryaprima KSO dengan nilai kontrak sebesar Rp 470 miliar. Bendungan Rotiklot memiliki daya tampung sekitar 2,67 juta kubik ditargetkan pembangunannya selesai pada 2018.

Adapun manfaat dari Bendungan Rotiklot ini diharapkan  mampu mengairi jaringan irigasi seluas 139 hektar (padi), 500 hektar (palawija),mengurangi debit banjir 500 m3/detik, penyediaan listrik 0,15 MW, dan suplai air baku untuk masyarakat dan Pelabuhan Atapupu sebesar 40 liter per detik.

Selanjutnya, pembangunan Bendungan Napun Gete  di Kabupaten Sikka, kontraknya telah ditandatangani pada Desember 2016 lalu dengan PT Nindya Karya (Persero) sebagai kontraktor dengan nilai kontrak sebesar Rp 849,9 miliar. Progres fisik sampai saat ini mencapai 0,7 persen dan ditargetkan selesai pada akhir 2020.

Meskipun begitu, Kementerian PUPR berupaya mempercepat proses pembangunan Bendungan Napun Gete sehingga diharapkan dapat selesai dalam waktu kurang dari lima tahun sejak penandatanganan kontrak.

"Saya selalu mengingatkan kontraktor untuk memacu progres fisik pembangunan bendungan. Kalau normalnya 5 tahun, kita upayakan untuk selesai dalam 3-4 tahun saja,” tutur Direktur Jenderal Sumber Daya Air (SDA) Kementerian PUPR Imam Santoso pada saat penandatanganan kontrak Bendungan Napun Gete beberapa waktu lalu.

Bendungan Napun Gete direncanakan memiliki volume tampungan sebanyak 7,63 juta meter kubik, direncanakan dapat mengairi irigasi seluas 700 hektar, menediakan air baku sebanyak 0,20 meter kubik per detik dan memiliki potensi pembangkit tenaga listrik sebesar 0,71 megawatt.

Persiapan Pembangunan Bendungan Temef

Pada tahun 2017, rencananya juga akan dimulai pembangunan  Bendungan Temef di Kabupaten Timor Tengah Selatan, yang akan menjadi bendungan terbesar di NTT dengan daya tampung sebesar 81,15 juta meter kubik untuk memenuhi kebutuhan jaringan irigasi seluas 6.000 hektar dan kebutuhan air baku sebesar 0,13 meter kubik per detik serta menghasilkan listrik sebesar 2,8 megawatt (MW).

"Dimasa mendatang diharapkan NTT tidak lagi mengalami kekeringan. Selama ini, masyarakat memenuhi sebagian besar kebutuhan air dari sumur bor yang dikelola oleh PDAM dengan menggunakan mesin pompa. Bahkan di kawasan pedesaan sebagian besar masyarakat belum terjangkau oleh sistem perpipaan, sehingga harus mengambil air dari sumbernya yang cukup jauh,” ujar Menteri Basuki beberapa waktu lalu.

Sementara itu Ketua Komisi V DPR RI Fary Djemy Francis dalam kunjungan kerjanya di Provinsi NTT, Rabu (1/3) mengatakan pentingnya percepatan pembebasan lahan agar proyek pembangunan Bendungan Temef tak terhambat. Untuk itu Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan perlu melakukan langkah-langkah dan kordinasi dengan instansi terkait pembebasan lahan.