Pembangunan Konstruksi PLTU Batang Diprediksi Capai 40% Tahun Ini

01/03/2017

Tidak berkategori

SEMARANG—Proyek PLTU Batang yang berada di bawah kendali PT Bhimasena Power Indonesia dengan kapasitas 2 x 1.000 MW diproyeksikan rampung sekitar 40% hingga akhir tahun ini.

Menurut Presiden Direktur Bhimasena Power Indonesia Takashi Irie capaiannya setelah proses pembangunan sejak Juni 2016 hingga Februari 2017 sudah sekitar 23%.

“Tahun ini proses konstruksi, pada 2018 pemasangan alat elektrikal dan mekanikal, tahun 2019 akan dilakukan berbagai pengetesan dan Mei 2020 unit pertama akan beroperasi dan unit kedua menyusul enam bulan berikutnya yaitu pada November,” katanya, Rabu (1/3).   

Dalam kesempatan yang sama Direktur Bhimasena Power Indonesia Wasistho Adjinugroho, mengatakan proyek yang menelan investasi hingga US$4,2 miliar atau setara sekitar Rp50 triliun itu, saat beroperasi kelak akan mendapatkan pasokan batubara dari Kalimantan melalui PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan PT Adaro Indonesia.

Menurut Adjinugroho, PLTU yang akan menjadi terbesar di Asia Tenggara tersebut kelak memerlukan pasokan batubara hingga tujuh juta ton per tahun. Karena PLTU itu menggunakan teknologi Ultra Super Critical, konsumsi batubara akan lebih efisien sekitar 7% dibandingkan dengan PLTU Subcritical.

Konsumsi batubara akan lebih rendah 517.000 ton. Pun demikian dengan emisi yang dihasilkan lebih rendah sekitar 900.000 ton CO2 per tahun. Saat ini, pihaknya pun sudah mulai membangun dermaga yang menjorok ke laut sepanjang 2,4 km di sekitar lokasi PLTU untuk merapatnya tongkang pengangkut batubara.

“Dalam sehari bisa dua tongkang yang merapat ke dermaga tersebut dengan kapasitas tongkang 14.000 DWT. Kami pun menyiapkan tempat penyimpanan pasokan batu bara hingga 30 hari untuk mengantisipasi tersendatnya pasokan,” ujarnya.

Dia menyebut, pembangunan dermaga itu diperkirakan rampung pada 2019. Di sisi lain, setelah PLTU itu rampung dibangun dan mulai beroperasi, listrik yang dihasilkan seluruhnya akan dibeli oleh PT PLN dalam kontrak selama 25 tahun.

Jika kontrak tersebut berakhir, lanjut dia, PLTU Batang sepenuhnya akan diserahkan kepada perusahaan pengelola listrik pelat merah tersebut. Seperti diketahui, proyek PLTU Batang merupakan patungan antara dua perusahaan Jepang yakni J Power dan Itochu serta satu perusahaan lokal, PT Adaro Energy.

Dalam PT Bhimasena Power Indonesia, J Power menggenggam 34% saham pun demikian dengan Adaro Energy. Sedangkan Itochu hanya memiliki 32% saham. Pendirian PLTU Batang mendapatkan izin pemerintah pada Oktober 2011 dan dimulai pembangunan pada 2012.

Akan tetapi, pembangunannya sempat tersendat akibat masalah pembebasan lahan serta masalah sosial lainnya. Adjinugroho menyebut, masalah pembebasan lahan rampung pada pertengahan tahun lalu sehingga saat ini lahan seluas 226 hektar sudah disertifikatkan atas nama Bhimasena Power Indonesia.

“Sertifikatnya sudah kami jaminkan ke bank untu memperoleh dana pembangunan. Jadi mulai dibangun kembali Juni 2016 dan kami optimistis 2020 beroperasi,” imbuhnya.

Sebelumnya, pembiayaan proyek PLTU tersebut melibatkan Japan Bank for International Cooperation (JBIC) dan sindikasi sembilan bank komersial yaitu SMBC, BTMU, Mizuho, DBS, OCBC, Sumitomo Trust, Mitsubishi Trust, Shinsei dan Norinchukin.