Rencana Revitalisasi Danau Tondano

17/11/2017

Agenda PUPR

Danau Tondano yang terletak di Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara memiliki luas 4.616 hektar. Danau Tondano merupakan satu dari 15 danau yang sedang dalam keadaan kritis di Indonesia. Danau terbesar di Kabupaten Minahasa ini mengalami proses pendangkalan akibat masifnya pertumbuhan tanaman eceng gondok dan sedimentasi.

500 hektar dari total luas Danau Tondano ini digenangi eceng gondok. Eceng gondok merupakan hama yang mampu tumbuh dengan cepat dan biasanya menyerang danau dengan iklim tropis. Kandungan nitrogen, fosfat dan potasium yang tinggi di dalamnya mengakibatkan sedimentasi hingga menyebabkan penyusutan luas. Akibat banyaknya hamparan tumbuhan itu, fungsi utama danau terganggu, kedalaman danau berkurang hingga mengurangi volume tampungan danau.

"Saat ini Kementerian PUPR tengah melakukan revitalisasi Danau Tondano untuk mengembalikan fungsi alaminya sebagai tampungan air, termasuk penataan di kawasan DAS. Kita akan keruk sedimen dan bersihkan eceng gondok, seperti halnya di Danau Rawapening, Danau Limboto dan Danau Toba," kata Menteri PUPR Basuki Hadimuljono baru-baru ini.

Untuk merevitalisasi Danau Tondano, akan dilakukan upaya pengerukan danau, pembuatan tanggul pembatas badan air danau, pengendalian gulma air dengan membersihkan eceng gondok secara rutin. Dirjen SDA Kementerian PUPR Imam Santoso mengatakan sejak 2014-2017 sudah terbangun 2,7 KM tanggul dari total 17,9 KM dengan alokasi anggaran sebesar 82,61 miliar.

"Anggaran ini single year tapi berkelanjutan, jadi setiap tahun ada. Tahun ini ada Rp 16 miliar, tahun depan Rp 16 miliar," ujar Imam Santoso saat meninjau Danau Tondano, Rabu (15/11/2017).

Untuk memaksimalkan upaya pembersihan hama eceng gondok, Dirjen SDA juga mengatakan akan menambah excavator, dump truck dan dua alat harvester berky.

Selain Danau Tondano, Sungai Tondano pun akan direvitalisasi oleh Kementerian PUPR melalui BWS Sulawesi I, yang saat ini sudah dilakukan proses normalisasi. Sungai yang memiliki panjang 1.700 meter ini nantinya akan dibagi menjadi dua paket pengerjaan. Paket pertama (6A) sepanjang 800 meter dan paket kedua (6B) sepanjang 900 meter.

Paket 6A mulai dari kawasan Jembatan Megawati hingga Jembatan Mahakam, dikerjakan oleh PT Brantas Abipraya dengan nilai kontrak Rp 64,8 miliar. Untuk paket 6B dari kawasan Jembatan Mahakam hingga wilayah pertemuan Sungai Tikala dan Sungai Tondano, dikerjakan oleh PT Basuki Rahmanta Putra dengan nilai kontrak Rp 78,34 miliar. Kedua paket ini mulai dikerjakan sejak Maret 2016 dan ditargetkan selesai pada tanggal 30 September 2018. Paket 6A sudah berjalan 42,64% dan paket 6B 43,97%.

Normalisasi ini juga bertujuan untuk menambah kapasitas tampung air. Sebelumnya, sungai ini memiliki lebar hanya 10-15 meter, dilebarkan menjadi 30 meter dan mampu menampung debit 450 m3/detik.

Sumber: pu.go.id