Jembatan Holtekamp, Ikon Baru Jayapura Rampung 2018

19/02/2017

Tidak berkategori

JAYAPURA, KompasProperti - Bila Ambon memiliki ikon baru Jembatan Merah Putih, Pontianak dengan Jembatan Tayan, dan Manado dengan Jembatan Ir Soekarno, yang desain ketiganya mengadopsi ornamen lokal, Jayapura tak ketinggalan membangun hal serupa.

Ibu kota Provinsi Papua ini tengah membangun Jembatan Holtekamp dengan total panjang 732 meter, dan berciri khas unsur plengkung dari baja.

Direktur Jalan dan Jembatan Ditjen Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Ahmad Ghani Ghazali mengatakan, pembangunan jembatan ini sebagai upaya pemerintah untuk menciptakan pemerataan.

"Kami berupaya melakukan pemerataan pembangunan. Tidak hanya di Pulau Jawa, melainkan juga di Papua, Papua Barat, dan di seluruh Indonesia," ujar Ghani kepada KompasProperti, di Jayapura, Minggu (19/2/2016). 

Ghani menuturkan, progres konstruksi saat ini sudah mencapai 62,8 persen dengan dana terserap 61 persen dari biaya konstruksi Rp 858 miliar jembatan utama yang dibiayai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Selain dana APBN, tambah dia, pembangunan Jembatan Holtekamp juga dibiayai oleh Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Papua untuk jembatan pendekat arah Holtekamp dan APBD II dari Kota Jayapura untuk pembangunan jalan pendekat dan pembebasan lahan.

Jika ditotal, dana untuk membangun jembatan yang melintang di atas Teluk Youtefa ini senilai Rp 1,7 triliun.

Kepala Balai Jembatan Wilayah X Papua Osman Harianto Marbun menambahkan rincian pembangunannya dari dana APBN untuk jembatan utama sepanjang 400 meter, dana APBD dan APBD II digunakan untuk membangun jembatan pendekat sepanjang 332 meter yang terdiri dari 33 meter jembatan pendekat arah Hamadi dan 299 meter arah Holtekamp.

embatan dengan lebar 21 meter ini dibangun dengan tujuan untuk mempersingkat waktu tempuh dari Jayapura ke Muara Tami.

 

"Meski memiliki tingkat kesulitan dan risiko tinggi, Jembatan Holtekamp ditargetkan selesai pada 2018 nanti," ucap Osman.

Nilai strategis

Keberadaan Jembatan Holtekamp, lanjut Osman, memiliki nilai strategis karena dapat menjadi solusi kepadatan kawasan perkotaan, permukiman, dan kegiatan perekonomian di dalam Kota Jayapura.

Selain itu, jembatan ini juga bisa menjadi peningkat hubungan perekonomian antara Republik Indonesia dan Papua New Guinea yang selama ini melalui Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Skouw.

Oleh sebab itu, keberadaan jembatan ini juga mampu mempercepat perjalanan menuju PLBN Skouw di Distrik Muara Tami.

“Dari kawasan pemerintahan (Jayapura) ke Muara Tami jaraknya 50 kilometer dengan waktu tempuh 2,5 jam karena harus memutar teluk Jika ada jembatan ini, jaraknya bisa dipangkas menjadi 33 kilometer, dengan waktu tempuh hanya 1,5 jam,” imbuh Osman.

Pembangunan Jembatan Holtekamp sendiri dilakukan oleh kontraktor konsorsium PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk, PT Hutama Karya (Persero) Tbk, dan PT Nindya Karya.

Ornamen daerah

Seperti jembatan panjang lainnya yang sudah beroperasi, unsur desain atau ornamen daerah harus ada dalam tampilan fisik Jembatan Holtekamp.

Dengan demikian, jembatan ini diharapkan dapat menjadi kebanggan, ikon kota, serta tempat wisata bagi masyarakat Jayapura.

“Jayapura juga berbatasan dengan negara lain, sehingga jembatan Holtekamp dapat menunjukkan kemampuan sektor konstruksi kepada negara tetangga,” ucap Osman.