Peresmian MRT Jakarta dan Kisah Didalam Pembangunannya

Jakarta – Mass Rapid Transit atau Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta fase I telah resmi beroperasi sejak Minggu (24/3) kemarin. Berbagai cerita dalam proses pembangunannya menjadi sejarah baru pada dunia konstruksi di Indonesia, sudah direncanakan sejak tahun 1985 dan baru terwujud pada 2019 ini. Kesuksesan dalam pembangunan fase I ini menjadi pemicu semangat untuk meneruskan fase selanjutnya yakni fase II MRT Bundaran HI-Kota.

Dalam pembangunan nya, MRT telah melibatkan banyak pihak yang mendukung pembangunan fase I ini, salah satunya adalah seorang wanita satu-satunya yang berada dalam jajaran profile direksi PT MRT Jakarta, Silvia Halim selaku Direktur Konstruksi yang bertanggung jawab dalam keberhasilan pembangunan megaproyek MRT ini.

“Cukup unik, ya, karena dunia saya dunia laki-laki. Saya Cuma perempuan kedua sebagai project engineer. Bukan eksistensi, tapi orang suka bertanya apa kamu bisa kerjain ini,” ujar Silvia

Menyadari peran nya dalam pembangunan MRT sangat besar dan melibatkan banyak pihak, Silvia juga sering berkoordinasi dengan berbagai instansi lain dalam mengambil keputusan yang mendapat dukungan penuh terhadap pembangunan proyek MRT.

Dirinya juga kerap menampung aspirasi masyarakat dalam melakukan evaluasi perbaikan layanan dari MRT ini. Hal ini dilakukan dengan cara mengundang masyarakat disabilitas demi mendapat masukan perbaikan fasilitas MRT ramah difabel.

“Pada dasarnya positif nya. Jadi belajar banyak apa yang perlu kita perbaiki lagi kalau tidak ada mereka kita tidak bisa feedback,” kata Silvia

Selain peran penting SDM yang bekerja untuk pembangunan MRT Jakarta fase I ini, terdapat juga peran penting dari perusahaan supplier bahan baku pembangunan konstruksi, salah satunya adalah produk beton ring yang digunakan untuk jalur bawah tanah MRT dengan total 5.365 ring yang di produksi oleh PT Wijaya Karya Beton Tbk.

Kemudian untuk rel nya sendiri menggunakan 3 tipe struktur yakni dengan Direct Fixation Track dengan Anti-Fibration Sleeper (Untuk Konstruksi Layang), Direct Fixation Track dengan PC Sleeper (Untuk Konstruksi Bawah Tanah), dan juga Ballasted Track yang digunakan untuk Depo. Dengan jumlah batang rel mencapai kurang lebih 3.585 batang dan didukung oleh kurang lebih 52.300 buah bantalan rel.

Memiliki total 13 Stasiun yang terbentang dari Bundaran HI sampai Lebak Bulus, salah satu pembangunan stasiun nya dikerjakan oleh PT Hutama Karya (Persero)  yang menangani pembangunan Stasiun Bundaran HI dan Stasiun Dukuh Atas serta 2 terowongan dari Bundaran HI sampai Setia Budi.

Sementara itu untuk Depo MRT ini sendiri berada di Stasiun Lebak Bulus yang sudah terintegrasi dengan beberapa transportasi lainnya. Di depo ini terdapat beberapa fasilitas perawatan kereta MRT Jakarta, yakni terdapat Mesin Cuci Otomatis untuk kereta MRT, Ruang Inspection Shed (Inspeksi Ringan Harian, Mingguan) dan ruang Workshop (Inspeksi Berat Bulanan, Tahunan)

Adapun untuk tarif yang akan dikenakan mulai dari April 2019 nanti telah disetujui dan ditetapkan dengan besaran Rp 10.000,- per 10 Km, dengan tarif minimum antar stasiun dikenakan sebesar Rp 3.000,- dan tarif maksimalnya adalah Rp 14.000,-. Besaran tarif ini sudah disesuaikan dengan anggaran subsidi Pemprov DKI Jakarta sebesar Rp 672 miliar hingga akhir 2019.