Konstruksi bisnis PTPP semakin kokoh

15/05/2017

Tidak berkategori

Jakarta - PT PP (persero) Tbk (PTPP) pada kuartal I membukukan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih dua digit dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini ditopang oleh makin kuatnya semua lini bisnis PTPP baik dari sektor jasa konstruksi, properti, pracetak, peralatan dan yang terbaru, bisnis energi.

Tercatat semua lini bisnis perseroan tumbuh signifikan, untuk bisnis jasa konstruksi tumbuh 9,2% menjadi Rp 1,93 triliun. Bisnis engineering, procurenment, construction (EPC) tumbuh 28,2% menjadi Rp 306,4 miliar.

BACA JUGA :
Analis: Ruang PTPP mencari pinjaman masih lebar
PTPP kantongi kontrak baru Rp 6,67 triliun
Lini bisnis properti dan realti tumbuh 3,9% menjadi 567,4 miliar, pracetak tumbuh 44,5% menjadi Rp 36,2 miliar, peratalan tumbuh 56,3% menjadi Rp 25,8 miliar dan bisnis energi mencatatkan pendapatan sebesar Rp 46,4 miliar.

Secara keseluruhan, pendapatan yang berhasil dibukukan pada kuartal I-2017 tumbuh 12,7% menjadi Rp 2,92 triliun dibandingkan setahun sebelumnya yang Rp 2,59 triliun. Dan laba bersih yang berhasil dibukukan PTPP itu tumbuh 32,6% menjadi Rp 130 miliar dibanding tahun sebelumnya Rp 98 miliar.

"Dari atas hingga bawah, seluruh segmen bisnis PTPP tercatat bertumbuh signifikan, dengan kontribusi utama masih datang dari unit jasa konstruksi, diikuti oleh bisnis EPC. Lonjakan terjadi pada bisnis pracetak dan peralatan. Sementara bisnis properti stabil ditambah mendapat pendapatan dari bisnis energy," papar analis Samuel Sekuritas Akhmad Nurcahyadi dalam riset 2 Mei 2017.

Sementara anlis Ciptadana Sekuritas, Arief Budiman bilang, pendapatan PTPP seharusnya bisa lebih baik jika tidak ada penundaan pembebasaan lahan salah satu proyek jalan tol. Selain itu kenaikan operating expenditure (opex) sebesar 48% year on year (yoy) mendorong pendapatan oprasional turun sebesar 4% menjadi Rp 250 miliar.

Meskipun demikian, analis Mirae Asset Sekuritas Franky Rivan menilai bahwa pertumbuhan pendapatan PTPP lebih lambat jika dibandingkan emiten konstruksi BUMN lainnya seperti Waskita Kayra (WSKT) pendapatan tumbuh 115% dan laba bersih tumbuh 219%, dan Wijaya Karya (WIKA) pendapatan naik 39,86% dan laba bersih naik 242%.

Kinerja yang baik dari PTPP menurut Akhmad tidak terlepas dari perolehan kontrak baru yang mencapai Rp 6,6 triliun tumbuh 37,5% atau sekitar 16,3% dari target kontrak baru sepanjang tahun ini yaitu Rp 40,6 triliun. Target kontrak baru tersebut diproyeksikan akan memberikan dampak pada kenaikan laba PTPP tahun 2017 menjadi Rp 1,5 triliun - Rp 1,6 triliun.

Arief percaya bahwa kinerja PTPP pada kuartal-kuartal berikutnya akan lebih baik, didukung dengan proyek yang lebih cepat eksekusi dan tren kenaikan musiman dalam pendapatan dan marjin menjelang akhir tahun. "Manajemen mempertahankan target pertumbuhan pendapatan dan laba bersih sekitar 40% - 50%," ungkapnya.

Franky juga meprediksi kinerja emiten ini akan lebih baik lagi, mengingat pada 2016 PTPP memiliki posisi net cash tertinggi kedua di antara emiten konstruksi BUMN yaitu 0,2 kali.

"Dengan modal dasar yang lebih besar, perusahaan dapat mengambil bagian tender lebih banyak lagi," ungkapnya.

Apalagi saat ini pemerintah sedang menghadapi kekurangan anggaran untuk pembangunan infrastruktur, Dengan leverage yang masih sangat nyaman yaitu 0,004 kali tentunya bisa meningkatkan modal melalui hutang, dan nantinya PTPP bisa mendapatkan banyak kontrak baru.

Akhmad juga memperediksi kinerja PTPP diperkirakan akan semakin ciamik jika rencana untuk menaikan nilai ekuitasnya tiga kali lipat menjadi Rp 30 triliun yaitu melalui penawaran saham perdana tiga anak usahanya terlaksana.

Tiga anak usaha emiten plat merah yang akan IPO tersebut adalah PT PP Peralatan konstruksi, PT PP Pracetak dan PTPP Energy.

Untuk itu Akhmad merekomendasikan buy dengan target Rp 4.150. Senada, Arief merekomendasikan buy dengan target harga Rp 4.200, begitu juga Franky dengan target harga Rp 4.200.